Rabu, 26 Oktober 2011

SUMBER DAN HAKEKAT PENGETAHUAN


SUMBER DAN HAKEKAT PENGETAHUAN


I.      PENDAHULUAN

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli / pergauli sejak bangku SD sampai perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri.
Filsafat ilmu merupakan bagian dari spistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Menurut Koento Wibisono (tahun 1994) ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan menampakkan diri secara dimensional yaitu ilmu sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk.
Tentang ilmu pengetahuan, diterangkan firman Allah SWT di dalam surat Thoha ayat 114 :


Artinya     :     ”Dan katakanlah, ya Allah, tambahkanlah kepada aku ilmu pengetahuan”

Dari ilmu Mas'ud ra ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : tidak boleh hasud (dengki), kecuali di dalam 2 hal yaitu :
1.    Terhadap orang yang diberikan harta oleh Allah, kemudian ia mempergunakannya untuk membela kebenaran
2.    Terhadap orang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya
(HR. Bukhari dan Muslim)


II.    Pembahasan
Pada dasarnya terdapat 2 cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar :
1.    Mendasarkan diri kepada rasio
2.    Mendasarkan diri kepada pengalaman
Kaum rasionalisme mengembangkan paham yang disebut rasionalisme kaum yang mendasarkan diri kepada pengalaman, mengembangkan paham yang disebut empirisme.

A.   Arti Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.
Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang keadaan sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya.
Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

   1. Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.

   2. Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.
*       

   3. Keterpaparan informasi

Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary, adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program komputer, databases . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi

B.   Terjadinya Pengetahuan
Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan berwarna pandangan atau paham filsafatnya.
Jawabannya yang paling sederhana tentang terjadinya pengetahuan ini apakah berfilsafat a priori atau a posteriori.
Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indra maupun pengalaman batin. Sedangkan pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman.
Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada 6 hal yaitu sebagai berikut :

   1. Pengalaman Indra (Sense Experience)

Orang sering merasa pengindraan merupakan alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Realisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui adalah hanya kenyataan. Jadi pengetahuan berawal mula dari kenyataan yang dapat diindrai.
Tokoh pemula dari pandangan ini adalah Aristoteles yang berpendapat bahwa pengetahuan terjadi bila subjek diubah di bawah pengaruh objek.

   2. Nalar (Reason)

Nalar adalah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebihj dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru.
Principium Identitas adalah sesuatu itu mesti sama dengan dirinya sendiri. Asas ini biasa juga disebut asas kesamaan.
Principium Contradictionis, maksudnya bila terdapat dua pendapat yang bertentangan, tidak mungkin keduanya benar dalam waktu yang bersamaan. Asas ini biasa disebut asas pertentangan.
Principium Tertii Exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawanan tidak  mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Asas ini disebut asas tidak adanya kemungkinan ketiga.

   3. Otoritas (Authority)

Otoritas adalah kekuasaan yang sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya. Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan, karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang mempunyai kewibawaan dalam pengetahuannya.
Jadi sebagai kesimpulan bahwa pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah pengetahuan yang terjadi melalui wibawa seseorang sehingga orang lain mempunyai pengetahuan.

   4. Intuisi (Intuition)

Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan.
Dengan demikian sesungguhnya peran intuisi sebagai sumber pengetahuan karena intuisi merupakan suatu kemampuan yang ada dalam diri manusia yang mampu melahirkan pernyataan yang berupa pengetahuan.


   5. Wahyu (Revelation)

Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada Nabi-Nya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.

   6. Keyakinan (Faith)

Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan.
Adapun keyakinan melalui kemampuan kejiwaan manusia yang merupakan pematangan dari kepercayaan. Karena kepercayaan itu bersifat dinamis mampu menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi.

C.   Jenis-jenis Pengetahuan
Pengetahuan itu menurut Soejono Soemargono (1983) dapat dibagi atas
1.    Pengetahuan non ilmiah
Pengetahuan non ilmiah ialah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk dalam kategori metode ilmiah.
Secara umum yang dimaksud dengan pengetahuan nonilmiah ialah segenap hasil pemahaman manusia atas atau mengenai barang sesuatu atau objek tertentu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.


2.    Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan ilmiah ialah segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang sudah lebih sempurna karena telah mempunyai dan memenuhi syarat tertentu dengan cara berpikir yang khas, yaitu metodologi ilmiah.
Jenis-jenis pengetahuan juga dapat dilihat pada pendapat Plato dan Aristoteles. Plato membagi pengetahuan menurut tingkatan pengetahuan sesuai dengan karakteristik objeknya. Pembagiannya adalah sebagai berikut :

   1. Pengetahuan Eikasia (Khayalan)

Tingkatan yang paling rendah disebut pengetahuan Eikasia, ialah pengetahuan yang objeknya berupa bayangan atau gambaran. Pengetahuan ini isinya adalah hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan atau kesukaan serta kenikmatan manusia yang berpengalaman.

   2. Pengetahuan Pistis (Substansial)

Satu tingkat diatas eikasia adalah tingkatan pistis atau pengetahuan substansial. Pengetahuan ini adalah pengetahuan mengenal hal-hal yang tampak dalam dunia kenyataan atau hal-hal yang dapat diindrai secara langsung.

   3. Pengetahuan Dianoya (Matematika)

Plato menerangkan tingkat pengetahuan ini adalah tingkatan ketiga yang ada di dalamnya sesuatu yang tidak hanya terletak pada fakta atau objek yang tampak, tetapi juga terletak pada bagaimana cara berpikirnya.
Dengan demikian dapat dituturkan bahwa bentuk pengetahuan tingkat dianoya ini adalah pengetahuan yang banyak berhubungan dengan masalah matematik atau kuantitas entah luas, isi, jumlah, berat yang semata-mata merupakan kesimpulan dari hipotesis yang diolah oleh akal pikir karenanya pengetahuan ini disebut juga pengetahuan pikir

   4. Pengetahuan Noesis (Filsafat)

Pengetahuan Neosis adalah pengetahuan tingkatan tertinggi, pengetahuan yang objeknya adalah arche ialah prinsip utama yang mencakup epistemologik dan metafisik. Prinsip utama ini disebut ”IDE”. Plato menerangkan tentang pengetahuan ini adalah hampir sama dengan pengetahuan pikir
Tujuannya adalah untuk mencapai prinsip utama yang isinya hal yang berupa kebaikan, kebenaran dan keadilan. Menurut Plato, cara berpikir untuk mencapai tingkat tertinggi dari pengetahuan itu adalah dengan menggunakan metode dialog sehingga dapat dicapai pengetahuan yang sungguh-sungguh sempurna yang biasa disebut Episteme.

D.   Asal Usul Pengetahuan
1.    Aliran dalam Pengetahuan
a.    Rasionalisme
Aliran ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercayai adalah rasio (akal). Akal dapat menurunkan kebenaran daripada dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas pertama yang pasti. Metode yang diterapkan adalah deduktif. Filsufnya antara lain : Rene Descartes, B. Spinoza dan Leibniz.

b.    Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa empiris yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman yang batiniah maupun lahiriah. Akal bukan jadi sumber pengetahuan, tetai akal mendapat tugas untuk mengolah bahan yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang diterapkan adalah induksi. Filsuf empirisme antara lain : John Locke, David Hume, William James.

c.    Kritisme
Dalam Kritik atas Rasio Murni, I. Kant membedakan tiga macam pengetahuan sebagai berikut :
(1)  Pengetahuan analitis
(2)  Pengetahuan sintetis aposteriori
(3)  Pengetahuan sintetis apriori

d.    Positivisme
Positivisme berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual dan yang positif. Segala uraian dan persoalan yang diluar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan.
Tokoh positivisme adalah August Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap 3 zaman, yaitu zaman teologis, metafisis dan ilmiah atau zaman positif.

2.    Metode Ilmiah
Metodologi merupakan hal yang mengkaji urutan langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu.
a.    Metode Ilmiah yang Bersifat Umum
Metode analisis ialah cara penanganan terhadap barang sesuatu atau sesuatu objek ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milahkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya. Metode sintesis ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan cara menggabungkan sesuatu pengetahuan yang baru
A posteriori menunjuk kepada hal yang adanya berdasarkan pengalaman. Metode deduksi ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan jalan menarik kesimpulan mengenai hal yang bersifat khusus berdasarkan atas ketentuan hal yang bersifat umum.
Metode induksi ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu dengan jalan menarik kesimpulan yang bersifat umum atau yang bersifat lebih umum berdasarkan atas pemahaman atau pengamatan terhadap jumlah hal yang bersifat khusus.
b.    Metode Penyelidikan Ilmiah
Metode siklus-empiris ialah suatu penanganan terhadap sesuatu objek ilmiah tertentu yang biasanya bersifat empiris-kealaman dan yang penerapannya terjadi di tempat yang tertutup.

3.    Sarana Berpikir Ilmiah
a.    Bahasa Ilmiah
Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia.

b.    Logika dan Matematika
Matematika merupakan salah satu puncak kegemilangan intelektual. Fungsi matematika menjadi sangat penting dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan.

c.    Logika dan Statistika
Statistik merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Logika dan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep yang berlaku umum.

E.   Sumber Pengetahuan
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empiris.
Kaum rasionalisme mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang di dapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita.
Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistik[1] dan subyektif.
Lebih jauh Einstein mengingatkan bahwa tak terdapat metode induktif yang memungkinkan berkembangnya konsep dasar suatu ilmu.[2] Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap oleh pancaindera.
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tanpa melalui proses berpikir berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai disitu.
Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran. Bagi Maslow intuisi ini merupakan pengalaman pengalaman puncak (peak experience)[3] sedangkan bagi Neitzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.[4]

Daftar Pustaka
-       Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Pustaka Imani, Jakarta
-       Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer
-       Drs. Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia
-       Meliono, Irmayanti, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar